Senin, 01 Maret 2010

Bahasa Indonesia 2 (Artikel 11)

Nama : Abhina Sakti Dangianjar

NPM : 10207007

Tugas : Bahasa Indonesia

Judul : Artikel






Pernyataan SBY Positif

Minggu, 28 Februari 2010 | 06:00 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Pernyataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bahwa dirinya sebagai presiden bertanggung jawab atas kebijakan yang telah diambil terkait kasus Bank Century bukan tidak mungkin berdampak menguntungkan.

Hal ini dikemukakan peneliti senior Center for Strategic and International Studies (CSIS), J Kristiadi, Sabtu (27/2/2010), saat ditanya tentang kasus Bank Century menjelang dibawa ke Sidang Paripurna DPR, Selasa (2/3/2010).

Langkah menyatakan mengambil alih tanggung jawab tersebut, menurut Kristiadi, menunjukkan saat ini Presiden Yudhoyono tengah membangun dan menyusun kembali ”bangunan koalisi” pendukung dirinya dari ”reruntuhan” bekas bangunan sebelumnya.

Sementara itu, aktivis Gerakan Indonesia Bersih, Fadjroel Rachman, kemarin mengatakan, para politisi dan partai politik, terutama mereka yang menjadi bagian dalam Panitia Khusus (Pansus) DPR tentang Hak Angket Bank Century, perlu bersikap ekstrahati-hati dalam penyampaian pandangan akhir di sidang paripurna mendatang terkait kasus itu. Dengan demikian, tidak mengkhianati harapan dan kepercayaan masyarakat.

”Saya sih sangat optimistis, apalagi publik selama ini bisa melihat prosesnya langsung lewat media massa. Memang sih, ada yang namanya penyakit ’oportunistis’ di setiap parpol. Namun, kondisi sekarang itu ibaratnya sudah jadi titik tanpa jalan kembali (point of no return),” tegas Fadjroel.

Ketua Pansus Idrus Marham, ditemui di sela-sela Pembukaan Rapat Kerja Nasional Partai Golkar, Jumat (26/2) malam, mengatakan, hasil Pansus DPR tentang Hak Angket Bank Century yang saat ini tengah disusun tim perumus tidak hanya memuat kesimpulan adanya indikasi penyimpangan dalam proses pengucuran dana talangan senilai Rp 6,7 triliun dan rekomendasi proses hukum atas penyimpangan itu. Pansus juga memberikan rekomendasi revisi sejumlah perundangan serta pengisian jabatan gubernur Bank Indonesia.

Pidato Presiden

Menurut Kristiadi, Presiden Yudhoyono telah menyiapkan pidato, yang diyakininya tidak akan jauh berbeda dengan pernyataan dirinya bertanggung jawab tadi.

”Namun begitu, dia juga harus akui kalau dalam proses dana talangan, misalnya, terjadi pelanggaran karena diduga ada yang mengalir masuk ke parpol. Dugaan pelanggaran itu harus diusut secara pro justicia,” tambah Kristiadi.

Lebih lanjut Kristiadi mengaku yakin upaya lobi yang semakin gencar dilakukan belakangan ini akan berdampak baik dan bahkan bisa sampai menarik sejumlah parpol, macam Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) dan Hati Nurani Rakyat (Hanura), bergabung dalam koalisi baru mendatang.

Malah tidak hanya itu, PDI-P dan Partai Golkar sekalipun juga berkemungkinan ”merapat” kembali ke dalam koalisi. Namun untuk itu, Presiden Yudhoyono harus bisa bersikap tegas dan tidak mengambang jika tidak ingin terus menjadi bulan-bulanan oleh parpol lain.

Seusai menghadiri deklarasi Pemuda Demokrat Indonesia Bersatu di Samarinda, Kalimantan Timur, kemarin, anggota DPR, Michael Wattimena, menyatakan, dana penyelamatan Bank Century tidak mengalir ke Partai Demokrat ataupun ke Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Boediono.

Wattimena berharap partai koalisi yang berseberangan pendapat dengan Partai Demokrat terkait kasus Century bisa mengubah sikap. Yang dimaksud ialah Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Golongan Karya,

”Hendaknya bisa berubah satu atau dua hari ke depan ini,” kata Wattimena. (WHY/BRO/DWA)

Ket :

Orange = Argumentasi

Coklat = Penalaran

Bahasa Indonesia 2 (Artikel 10)

Nama : Abhina Sakti Dangianjar

NPM : 10207007

Tugas : Bahasa Indonesia

Judul : Artikel






Politisi dan Parpol di Pansus Jangan Main-Main

Laporan wartawan KOMPAS Wisnu Dewabrata

Sabtu, 27 Februari 2010 | 19:32 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Para politisi dan partai politik, terutama mereka yang menjadi bagian dalam Panitia Khusus DPR tentang Hak Angket Bank Century, diingatkan agar bersikap ekstra hati-hati dalam penyampaian pandangan akhir di sidang paripurna mendatang terkait kasus itu sehingga tidak mengkhianati harapan dan kepercayaan masyarakat.

Masyarakat selama ini secara intens dan kritis telah mengikuti, mengamati, dan mencatat perilaku para parpol dan politisi melalui berbagai media massa. Pilihan yang ada sekarang hanya dua, mendukung (pro) atau menolak (kontra) praktik korupsi dalam kasus Bank Century. Pernyataan itu disampaikan aktivis Gerakan Indonesia Bersih, Fadjroel Rachman, saat dihubungi per telepon, Sabtu (27/2/2010).

Dengan kondisi macam itu, dia mengaku yakin DPR tidak akan berani bermain-main dengan kesimpulan akhirnya apalagi jika prosesnya dengan voting langsung. "Saya sih sangat optimistis, apalagi publik selama ini bisa melihat prosesnya langsung lewat media massa. Memang sih, ada yang namanya penyakit 'oportunistis' di setiap parpol. Namun kondisi sekarang itu ibaratnya sudah jadi titik tanpa jalan kembali (point of no return)," tegas Fadjroel.

Jika berani nekat, tambah Fadjroel, para politisi dan parpol tadi akan dicatat lekat-lekat dalam ingatan kolektif masyarakat, terutama terkait ketidakkonsistenan mereka dalam menangani persoalan terkait korupsi. Kondisi sekarang menurutnya adalah momen paling krusial di mana semua pihak ditempatkan dalam posisi untuk mengembalikan kesetimbangan moral dalam perpolitikan di Indonesia di mana seharusnya politik mengenal yang namanya benar dan salah.

Fadjroel juga mengingatkan, fungsi dan peran pansus hak angket sebatas membuktikan ada tidaknya kebijakan pemerintah yang melanggar Undang-Undang. Mereka tidak dibebani keharusan menyelidiki ada tidaknya pelanggaran hukum, terutama soal korupsi, di mana hal itu menjadi kewenangan kepolisian dan Komisi Pemberantasan Korupsi.

"Saya menilai, sebenarnya pemeriksaan oleh pansus sudah lengkap 90 persen membuktikan ada pelanggaran. Tinggal yang 10 persen itu pernyataan-pernyataan dari sejumlah pihak seperti dari Sri Mulyani dan Jusuf Kalla, misalnya terkait pernyataan kalau Sri Mulyani merasa ditipu. Jadi tinggal semua itu dikonfirmasi, sampai terakhir ke Presiden Yudhoyono," ujar Fadjroel.

Lebih lanjut Fadjroel mengaku menyesalkan kalau Presiden Yudhoyono seolah mengumpulkan massa untuk balik melawan serangan terhadapnya selama ini, terutama ketika dia dan Wakil Presiden Boediono menghadiri acara zikir bersama di Taman Silang Monumen Nasional, Jakarta. Cara-cara pengumpulan massa seperti itu, terutama yang diembel-embeli kelompok agama tertentu, menurut Fadjroel bukan hanya dilakukan Presiden Yudhoyono melainkan juga oleh para pemimpin sebelumnya, terutama saat mereka terdesak secara politik.

Bahkan di masa Soeharto, kelompok agama seolah diadu dengan gerakan mahasiswa. "Padahal dari pengalaman saya, setiap rezim yang akan runtuh melakukan langkah seperti itu. Mulai dari para mantan presiden sebelumnya seperti Soeharto, BJ Habibie, KH Abdurrahman Wahid, dan bahkan Megawati Soekarnoputri pun pernah melakukan hal sama," tukas Fadjroel.

Ket :

Orange = Argumentasi

Coklat = Penalaran

Bahasa Indonesia 2 (Artikel 9)

Nama : Abhina Sakti Dangianjar

NPM : 10207007

Tugas : Bahasa Indonesia

Judul : Artikel




Korban Bom Berencana Temui Pelaku

Sabtu, 27 Februari 2010 | 15:08 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Asosiasi Korban Bom Terorisme di Indonesia atau ASKOBI diusulkan agar menemui para pelaku peledakan bom di Bali dan Jakarta guna melakukan dialog. Upaya tersebut diharapkan mampu menggugah rasa penyesalan bagi pelaku bom sehingga aksi serupa tidak terulang.

Saya kira bagus. Asal mudah-mudahan jangan seperti saya dulu.

"Dengan adanya ASKOBI, kita berencana di masa yang akan datang kita akan mengadakan pertemuan antara pelaku dengan korban. Sehingga mereka (pelaku) ada penyesalan," kata mantan Komandan Jamaah Islamiyah, Nasir Abaas, di Hotel Borobudur, Jakarta, Sabtu (27/2/2010).

Hal senada di sampaikan Pengamat Terorisme International Crisis Group, Sidney Jones. Jones mengatakan, para korban peledakan bom dapat mengingatkan kepada pelaku bahwa perbuatan teror tersebut adalah kejahatan. Diharapkan, ini akan memberi efek jera sehingga pelaku tidak lagi melakukan aksi teror.

"Saya kira bagus sekali kalau anggota ASKOBI ikut rehabilitasi dalam penjara. Sekarang ada 140 pelaku yang ditahan. Saya kira kalau para tahanan ditemukan dengan korban akan ada penyesalan dari pelaku," paparnya.

Anggota ASKOBI sekaligus korban bom JW Marriot tahun 2003, Febby Firmansyah Isran menyambut baik usulan ini. Ke depan, ASKOBI berencana untuk menemui pelaku aksi bom. Meski demikian, dia mengakui pernah menemui pelaku bom dan hasilnya kurang menggembirakan. Namun, jangankan minta maaf, pelaku peledakan bom tersebut justru menceramahi Febby.

"Saya kira bagus. Asal mudah-mudahan jangan seperti saya dulu. Dulu, saya malah dibacakan ayat-ayat Al Quran di telinga saya dan setelah itu dia (pelaku) bilang Anda akan masuk surga. Setahu saya, Nabi Muhammad saja enggak berani bilang akan masuk ke surga. Ya asal kita nanti jangan emosi saja," tandasnya.

Ket :

Orange = Argumentasi

Coklat = Penalaran


Bahasa Indonesia 2 (Artikel 8)

Nama : Abhina Sakti Dangianjar

NPM : 10207007

Tugas : Bahasa Indonesia

Judul : Artikel






Di Tengah Korban Bom, Nasir Abas Merinding

Sabtu, 27 Februari 2010 | 14:40 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com- - Mantan Komandan Jamaah Islamiyah, Nasir Abbas merinding dan menitikkan air mata saat para korban bom terorisme kembali menguak tragedi bom yang terjadi di Indonesia, dalam sebuah diskusi yang digelar Asosiasi Korban Bom Terorisme di Indonesia (Askobi). Walaupun peristiwanya sendiri sudah berlalu, namun banyak korban yang terpaksa menanggung cacat seumur hidup akibat aksi bom itu.

Sebenarnya saya menggigil. Saya merinding, dan hampir menangis.

"Sebenarnya saya menggigil. Saya merinding, dan hampir menangis. Saat ini saya berkumpul dengan teman-teman korban akibat aksi bom telah menyebabkan kecacatan seumur hidup," kata Nasir, dengan mata berkaca-kaca, di Hotel Borobudur, Jakarta, Sabtu (27/2/2010).

Nasir mengaku menyesal karena pernah menjadi aktivis Jamaah Islamiyah, yang disebut sebagai organisasi terorisme. Saat masih aktif, dia mengaku pernah melatih aktivis Jamaah Islamiyah lainnya untuk berperang di daerah konflik. Dia juga pernah belajar soal perang dan cara membuat bom. Awalnya, Nasir menjadi aktivis Jamaah Islamiyah karena mengemban misi ke Afghanistan membela agamanya.

Namun, dia mengaku tidak tahu menahu kalau ternyata hasil latihannya itu kemudian disalahgunakan.

"Waktu itu saya melatih orang untuk berperang, menjadi tentara di daerah konflik. Tentu saja dalam perang selalu akan ada penderitaan. Tetapi tidak pernah ada dalam pikiran saya, mereka akan menyalahgunakannya dengan korban masyarakat sipil dan fasilitas sosial," sesalnya.

Karena merasa aksi teror yang dilakukan oleh teman-temannya sudah salah arah, Nasir yang saat itu sudah menjadi petinggi Jamaah Islamiyah memutuskan untuk keluar pada tahun 2003. Dia tidak peduli dengan cap kafir yang distempel olah orang-orang Jamaah Islamiyah. Setelah menanggalkan status petinggi Jamaah Islamiyah, Nasir kini menata hidupnya menjadi peneliti terorisme. "Saya dibilang kafir, dibilang pengkhianat. Saya tidak peduli. Agama saya tetap Islam, tetapi teror apa pun bentuknya tetap salah," tandasnya.

Menurutnya, terorisme terjadi karena adanya pemahaman agama yang keliru dan kemudian diikuti oleh para penganutnya. "Terorisme itu terjadi karena ideologi yang salah. Semuanya saja bisa terpengaruh," katanya.

Ket :

Orange = Argumentasi

Coklat = Penalaran

Bahasa Indonesia 2 (Artikel 7)

Nama : Abhina Sakti Dangianjar

NPM : 10207007

Tugas : Bahasa Indonesia

Judul : Artikel






Berjuang Hidup sebagai Janda Korban Bom Bali I

Sabtu, 27 Februari 2010 | 17:33 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — 12 Oktober 2002 merupakan tanggal yang tak bisa dilupakan Hayati Eka Laksmi setelah suaminya, Imawan Sarjono, tewas dalam tragedi bom Bali. Delapan tahun berlalu, emosi perempuan itu tak pernah surut. Saat mengulik kembali duka itu, Eka pun tak sanggup dan menitikkan air matanya.

"Saya adalah bagian dari keluarga korban bom Bali 2002. Suami saya korban bom, kebetulan lewat dan beliau menjadi korban. Saya jadi nangis lagi. Saya kembali ingat," kata Eka sambil sesenggukan di Hotel Borobudur, Jakarta, Sabtu (27/2/2010). Pascakejadian itu, kenang Eka, suaminya menghilang dan baru ditemukan jasadnya pada hari ketujuh pencarian. Jasadnya pun tak lagi utuh. Melewati tujuh hari tanpa kabar dari suaminya tentu bukan hal yang mudah bagi ibu dua putra ini. Anaknya, yang saat itu masih berumur dua dan empat tahun, terus menanyakan keberadaan ayah mereka.

"Di luar dugaan, anak-anak saya terus bertanya di mana ayahnya. Sebelum ditemukan pada hari ketujuh, saya terus membohongi anak-anak. Pada hari ketujuh, saya bisa menemui jasad suami tanpa bentuk utuh. Alhamdulillah bisa ditemukan sehingga saya bisa memberikan jawaban kepada anak-anak saya," kisahnya dengan napas tertahan tangis.

Saat mengetahui suaminya telah meninggal, Eka dihadapkan pada kenyataan bahwa dia hanya seorang ibu rumah tangga tanpa penghasilan. Selama ini, dia hanya menggantungkan hidupnya dari penghasilan suami. Eka lantas memutar otak dan mencari cara untuk menghidupi kedua putranya. Berbagai lowongan pekerjaan dijajalnya. Namun, tak satu pun yang berhasil.

"Berat. Pada saat kejadian, saya hanya ibu rumah tangga. Saya sudah melamar ke sana kemari mencari pekerjaan. Dengan pengalaman, skill, banyak yang hanya menjanjikan akan membantu. Tetapi hasilnya nol," ungkapnya.

Setengah putus asa, dia akhirnya bergabung di sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) atas ajakan seorang temannya. Di sana, dia menjadi relawan sekaligus menjalani terapi trauma. Dari situlah, dia mulai bangkit. "Saya mengobati diri sendiri. Di sana saya bangkit. Waktu itu kami (para korban aksi bom) bergabung jadi satu dan saling menguatkan," tuturnya.

Kini, dia mempunyai penghasilan dengan menjadi guru honorer di SMP swasta, Denpasar. Prestasi kedua anaknya pun cukup membanggakan. Namun, peristiwa itu tetap menyisakan perih di benaknya hingga kini.

Ket :

Orange = Argumentasi

Coklat = Penalaran

Bahasa Indonesia 2 (Artikel 6)

Adhyaksa Dault: Melupakan Politik, Mencintai Alam

Laporan wartawan KOMPAS Yurnaldi

Minggu, 28 Februari 2010 | 10:43 WIB

CIPANAS, KOMPAS.com — Selepas menjadi Menteri Negara Pemuda dan Olahraga, Adhyaksa Dault (47) fokus di dunia pendidikan dan kepecintaalaman. Dunia politik untuk sementara ditinggalkan, walau ada tawaran jadi petinggi sebuah partai. Adhyaksa lebih memilih jadi Ketua Umum Vanaprastha, kelompok pecinta alam yang membina generasi muda untuk cinta alam dan tanah air.

"Saya bangga menjadi Ketua Umum Vanaprastha dibanding pemimpin sebuah partai. Lingkungan kita sekarang dalam kondisi memprihatinkan. Degradasi dan deforestasi hutan mencapai 2 juta hektar per tahun. Tutupan hutan terus berkurang," tandasnya seusai dilantik menjadi Ketua Umum Vanaprastha periode 2010-2013 di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Cipanas, Sabtu (27/2/2010).

Ia melukiskan, sebagai contoh, hutan di Jawa tutupannya 10 juta hektar pada tahun 1800-an, tahun 1989 tinggal 1 juta hektar. Tahun 2005 terus, tutupan menyusut sehingga kini tersisa tutupan hutan 0,4 juta hektar. "Karena itu," lanjutnya, "Saya tidak berpolitik dulu. Saya ingin serius dalam masalah lingkungan, dengan menumbuhkan kesadaran cinta alam dan cinta tanah air di kalangan generasi muda," ungkapnya.

Tahun 2010, pihaknya berencana menggelar Geladian Cinta Alam tingkat nasional, yang sejak satu dasawarsa terakhir tak pernah ada. "Kami ingin menanamkan dan membangkitkan kesadaran bahwa satu pohon memberi kehidupan kepada dua orang, dengan menghasilkan 2.500 galon air per tahun," ujarnya.

Adhyaksa yang tercatat sebagai anggota Wanadri 019 sudah mencintai kegiatan kepecintaalaman sejak SMA pada tahun 1980-an. Karena itu, kembalinya Adhyaksa yang kini menjadi staf pengajar pada program doktoral (S3) di Universitas Diponegero, Jawa Tengah, disambut gembira kalangan pecinta alam, penjelajah rimba, pendaki gunung, pengarung arus deras, dan sebagainya.

"Saya akan total berbuat untuk Vanaprastha," tegasnya seusai meletakkan batu pertama pembangunan Basecamp Vanaprastha di ketinggian 1.625 mdpl di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.

Ket :

Orange = Argumentasi

Coklat = Penalaran

Bahasa Indonesia 2 (Artikel 5)

Nama : Abhina Sakti Dangianjar

NPM : 10207007

Tugas : Bahasa Indonesia

Judul : Artikel





Pidato SBY Sebaiknya Setelah Paripurna

Sabtu, 27 Februari 2010 | 14:19 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Pidato Presiden Susilo Bambang Yudhoyono soal kemelut skandal Bank Century sebaiknya disampaikan setelah Sidang Paripurna DPR pada tanggal 2 Maret mendatang. Dijadwalkan, Pansus Hak Angket Kasus Bank Century akan menyampaikan rekomendasi akhir pada sidang paripurna tersebut.

"Sebaiknya pidato itu dilakukan setelah tercipta konsensus politik dari parpol di DPR," ujar pengamat politik dari Indo Barometer, Muhammad Qodari, Sabtu (27/2/2010) di Jakarta.

Dikhawatirkan, jika disampaikan sebelum sidang paripurna, pidato Presiden dapat memengaruhi rekomendasi akhir DPR sehingga menimbulkan dinamika politik baru.

Seperti diwartakan, saat membuka sidang kabinet, Kamis (25/2/2010) lalu di Kantor Presiden, Jakarta, Presiden SBY mengatakan siap menyampaikan pidato soal kasus Century. "Saya, sebagai kepala negara, tentu yang paling bertanggung jawab terhadap apa yang terjadi di negara ini. Di bidang pembangunan dan di bidang kehidupan yang lain. Oleh karena itu, saya akan sampaikan statement dan pidato resmi saya sehubungan dengan ini," ujarnya.

Terkait dengan keputusan akhir DPR soal kasus Century, Qodari memperkirakan akan dilakukan melalui voting atau pemungutan suara per item, mulai dari soal merger dan akuisisi hingga aliran dana. Qodary menghimbau agar voting dilakukan secara terbuka. "Voting harus dilakukan secara terbuka sehingga transparan dan dapat dipertanggungjawabkan. Dengan voting akan ketahuan siapa yang musang berbulu domba, musang dan domba beneran," ujar Qodari.

Ket :

Orange = Argumentasi

Coklat = Penalaran